Formulir Kontak

 

ILMU dan AMAL 5 April 2014

pict.jpg : google.com
Kali ini torehan nasehat tersampai dari lisan beliau, Ummu Yusuf. Kesekian kalinya bertemu layaknya ummi dengan putrinya, ustadzah dengan santrinya, kakak dengan adiknya. Masyaa Allah. Semoga pertemuan ini pertemuan yang di ridhoi oleh-Nya.
Dan Insyaa Allah pertemuan ini akan menjadi hujjah di hari akhir. Dimana kesibukan umur ini digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat yakni kebaikan hingga tidak berkesempatan menyibukkan diri untuk suatu keburukan.
Dan pertemuan inilah yang menuntun sebisa kita menjalani waktu sisa ini untuk menuntut ilmu. Dan seiring berjalannya waktu dimana menuntut ilmu untuk masa akhirat. Bukan alasan untuk sebuah ketenaran, bukan untuk dunia yang semula di gadang-gadangkan saat sekolah dan alasan lainnya. Ilmu inilah sarana perbaikan untuk akhirat dan ummat. Salah satu perwujudannya dengan menjadi seorang yang ahli di bidangnya. Membantu muslim lainnya dan bergerak bersama menjadi seseorang yang mampu memaknai peran menjadi seorang muslim dan muslimah. Disinilah peran syiar itu ditekankan..
Bercermin dengan keadaan sekarang, umat islam ibarat buih. Dimana saat ia mendapat sedikit goncangan, maka ia akan bercerai berai. Dan tidak akan pernah terjadi, suatu kebangkitan islam tanpa sebuah usaha yang sungguh-sungguh. Disinilah peran mulim muslimah dengan benteng keilmuannya. Dan buah dari keilmuan itu sendiri ialah amal. Menjadi seorang yang ‘alim, dimana ia berilmu sekaligus beramal.
Mari mengaca pada figur seorang ‘ulamaa’
Fatir ayat 28 pun menjelaskan :

Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. [Tafsir Q.S. Al-Fatir : 28]
Seorang ‘ulamaa’ ialah ia yang memiliki khosyah dan yang mengenal Allah Ta’ala. Dimana itu terwujud dalam buah amalan. Kata seseorang, jika kita tidak bisa sama amalannya dengan mereka, maka berusahalah semampu kita untuk menyamainya. Hasilnya? Cukupkan Allah saja yang berhak menentukan. Semampu kita untuk melakukan perintah dan menjauhi larangan-Nya, insyaa Allah.
Al-‘ilmu
Ma’rifatul sya’I ‘alaa maa-huwa ‘alaihi, mengetahui sesuatu sesuai dengan keadaan seperti itu. Ilmu yang saat ini umum dipelajari didalam sekolah-sekolah umum di Indonesia seperti cangkupan SD, SMP, SMA dan Universitas itu adalah mubah. Dimana peletakkannya ialah sesudah ilmu syar’i. Cangkupan ilmu syar’i seperti yang dijelaskan oleh Ibnu Umar radiyallaahu ‘anhuma, ilmu itu ada tiga [Al Quran, As Sunnah, dan sesuatu yang ‘saya tidak tahu’]. Dimana az-zhan (persangkaan) bukan bagian dari ilmu.
Begitupun dengan Imam Syafi’i yang mendefinisikan ilmu. Ilmu itu yakni ilmu selain Quran yang itu menyibukkan. Dan ilmu itu adalah apa-apa yang didalamnya terdapat al-hadist.
Murid dari Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim rahimahullaah memaknai ilmu sebagai perkataan Allah, perkataan Rasul, dan perkataan para shahabat.
Di dalam ahlussunnah wal-jamaah, akal itu bersesuaian dengan Quran, as-Sunnah, dan ijma’ para shahabat (yang menjadi kesepakatan bersama para shahabat). Dimana tetap menjadikan Quran dan As-Sunnah rujukan pertama. Kembali memaknai Q.S An-Nisaa’
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. [Tafsir Q.S An Nisaa’ : 59].
Seperti perkataan Imam Malik : tidak ada yang maksum perkataannya selain Rasulullahshalallahu ‘alaihi wassalam.
Perlu digaris bawahi, semua imam empat mahdzab menolak taklid buta, yakni mengikuti perkataan orang tanpa rujukan dan dalilnya.
Kembali pada ilmu..
Maka ilmu itu dibarengi dengan amalan. Dalam Q.S. Muhammad : 10 itulah dasar mengapa ilmu itu menjadi dasar (didahulukan) dibandingkan amal.
Saat ini, baiknya segera merubah orientasi belajar dalam menjalankan ketaatan semampu kita. Dan meluangkan waktu semampu kita..
~UKHROWInya dulu ^^~
5 April 2014-Kota Hikmah

Total comment

Author

Unknown

0   komentar

Cancel Reply