Formulir Kontak

 

Dua Sisi

pict : tumblr.com
Seringkali apa yang terjadi tidak sama dengan apa yang diharapkan. Bahkan membingungkan, apa yang diterima ini wujud dari nikmat ataukah bentuk uji ketaqwaan. Karena seringkali manusia sibuk berbangga dengan wujud kebaikan yang kecil dan kemudian berbangga dengan nikmat yang ia terima sesudahnya. Dan dengan angkuhnya berkata, ‘wah, ini karena amalku yang ku lakukan tadi pada orang lain’. Dan masih banyak lagi. Tak terkecuali dengan apa yang dimiliki dan diamalkan. Banyak yang merasakan itu sebuah nikmat padahal itu ujian akankah kita mampu membagi nikmat tersebut untuk orang lain atau tidak. Dilain sisi bisa jadi itu sebuah nikmat yang harus disyukuri. Dan layaknya jika kita dapatkan nikmat kebaikan itu silahkan untuk ‘Berbagi dan Disyukuri’..
Berbicara tentang ini, satu nasihat yang ingin saya sampaikan untukku dan untukmu : Lupakan. Lupakan apa saja yag telah engkau berikan untuk orang lain. Jadikan sebuah amal sebagai wujud perbaikan. Jadikan sebuah amal wujud dari rasa syukur kita. Wujud kecintaan kita pada Rabb kita. Dan wujud salah satu langkah kedepan mendekati puncak keikhlasan. Selalu belajar ikhlas dengan apa yang tertunaikan. Karena bisa menjadi ikhlas itu karena proses pembelajaran.
Dan apa yang diterima, kenali  sebab akibatnya. Akankah itu hasil dari perbuatan buruk kita, ataupun sebaliknya. Sekali lagi, kenali sebab akibatnya.. (Catatan)
#MuhasabahDiri

Total comment

Author

Unknown
Nur Muhammad Efendi - Nahid Faz Fadholi - Khusnul Qotimah - Lailah Laika - Uswatun Hasanah
pict : faiz

Total comment

Author

Unknown
pict : google.com
Tidak melewatkannya di hari jumat untuk sekedar berinteraksi dengan bacaan kahfi. Entah mengapa suka sekali dengan surat ini sejak mengenal salah satu keutamaan-keutamaan kahfi yang dipaparkan dalam sebuah hadist shahih :
"Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at, maka dipancarkan cahaya untuknya sejauh antara dirinya dia dan Baitul ‘atiq." (Sunan Ad-Darimi, no. 3273. Juga diriwayatkan al-Nasai dan Al-Hakim serta dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Targhib wa al-Tarhib, no. 736).
Banyak kisah-kisah yang termaktub didalamnya. Kisah Ashhabul Kahfi, kisah dua orang laki-laki yang seorang kafir dan yang lainnya mu’min, kisah Nabi Musa ‘alaihissalam dengan Nabi Khidhr ‘alaihissalam, dan kisah Dzulkarnain.
Surat yang terdiri dari 110 ayat inilah yang sering mengalun dinetbuk ‘ASUS biru donker’ dari bacaan Ustadz Yusuf Mansyur dan Syaikh Mishaari Raashid al-Aafaasee. Bicara tentang bacaan Quran Syaikh Mishaari Raashid al-Aafaasee, Masjid Kampus UGM punya satu imam yang bacaannya mirip dengan Syaikh Mishaari Raashid al-Aafaasee. Masyaa Allah.. Beliau yang beberapa hari yang lalu menegur ku dengan adab perputaran badan saat mengambil sandal diparkiran bawah takmir MasKam.
Kembali ke Kahfi..
Dulu saat menjadi santri di Nurul Hikmah, kisah Pemuda Kahfi menemani pengajaran TPA oleh ustadzah. Bermulailah kami berimajinasi bagaimana wujud dari Gua Pemuda Kahfi tersebut.. xD
“Adakah engkau menyangka (wahai Muhammad), bahawa kisah ‘ashabul kahfi’ (penghuni gua) dan ‘ar-raqiim’ (anjing mereka) termasuk antara tanda-tanda-tanda kekuasaan Kami yang menakjubkan? (Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”. (al-Kahfi: 9)
“Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk.” (QS al-Kahfi:13) 
Sedikit kisahnya, mereka adalah pemuda-pemuda yang mengungkapkan hujjah didepan seorang raja dzalim dimasa itu. Karena sayangkan aqidah dan agama mereka, pemuda-pemuda itu mencari keputusan yang mufakat. Mengenai tindakan apa yang sepatutnya diambil untuk mempertahankan diri dan juga agama mereka. Akhirnya mereka memutuskan untuk lari bersembunyi dan berlindung di dalam gua di kawasan pedalaman/kampung.
“Dan oleh karena kamu telah mengasingkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, maka pergilah kamu berlindung di gua itu, supaya Tuhan kamu melimpahkan dari rahmat-Nya kepada kamu dan menyediakan kemudahan-kemudahan untuk menjayakan urusan kamu dengan memberi bantuan yang berguna”. (al-Kahfi: 16)



Mereka lari ke pedalaman di kawasan pergunungan. Di situ terdapat sebuah gua dan di situlah mereka bersembunyi dan berlindung bersama seekor anjing bernama ar-raqiim. Maka anjing itu turut bersama-sama dengan mereka berlindung dan menetap di gua itu. Di dalam gua itu mereka diberi ketenangan dan ketenteraman oleh Allah.Allah telah menidurkan mereka dengan nyenyak dalam gua tersebut. 
Firman Allah menceritakan tentang mereka di dalam gua :
“Lalu Kami tidurkan mereka dengan nyenyaknya di dalam gua itu bertahun-tahun lamanya”. (al-Kahfi: 11).


Dan disaat terbangun, betapa bersihnya hati dan akhlak mereka. Walaupun dalam keadaan yang gawat dan susah serta kelaparan, tetapi mereka masih berpesan kepada sahabat mereka yang ditugaskan ke kota mencari makanan itu supaya mencari dan memilih makanan yang bersih dan halal.
“Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perak kamu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang paling baik (yakni yang bersih dan halal), maka hendaklah dia membawa makanan itu untuk kamu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan hal kamu kepada seseorangpun. Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya”. (al-Kahfi: 19-20)
Dan itulah tanda kuasa Allah. Ketidak percayaan seseorang dimasa itu tentang datangnya hari akhir dibuktikan dalam kisah ini. Jasad beribu bahkan berjuta tahun lamanya dimakan tanah akan kembali dibangkitkan. Maka bertepatanlah masanya saat Allah membangkitkan ashabul kahfi pada zaman tersebut dan menzahirkan kekuasaanNya kepada hamba-hambaNya yang masih ragu-ragu lagi.
Bagaimana dengan kita?
#MuhasabahDiri
sumber : Al-Kariim

Total comment

Author

Unknown

UKHROWI

pict : arifah

-1 tahun yang lalu- tepat disaat 'Halal bi Halal Ukhrowi' di Masjid Ash-Sholihin SMA Negeri 2 Ngawi surat ini dibacakan oleh seorang ikhwan yang hadir
'bagaimana ikhwah yang aktif dalam kepengurusan dan saat itu hadir tidak merasa 'kecil' dengan apa yang dilakukakannya?’
sungguh, selama ini yang kami lakukan 'teramat kecil'
#Pembelajaran

Ash-Shobru fil ‘Ibadah .. Ash-Shobru ‘indal Mushibah .. Ash-Shobru ‘anid Dunya .. Ash-Shobru ‘anil Ma’shiyah .. Ash-Shobru fil Jihad ..
(baarakallaahu fiiha)
___________________

Ini surat untukmu, Ukhrowi. Dariku. Ini saranku untukmu, Ukhrowi.

Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya, dan kita minta pertolongan pada-Nya, dan kita mohon ampun pada-Nya. dan kita berlindung pada Allah dari kejelekan nafsu kita, dan keburukan amalan kita, dan barang siapa yang diberi hidayah oleh Allah, maka tak ada yang bisa menyesatkannya kecuali Allah, dan barangsiapa disesatkan oleh Allah maka tak ada yang bisa menunjukinya kecuali Allah.

aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan Allah.

berfirman Allah dalam Al Qur’an yang mulia,

” wahai orang2 yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim„”

dan sebaik-baik contoh adalah contoh dari Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam„

dan sejelek-jelek perkara adalah yang baru dalam agama

dan setiap yang baru dalam agama adalah bid’ah

dan setiap bid’ah adalah sesat

dan kesesatan tempatnya adalah di neraka,

dan kita berlindung dari siksa api neraka…

Mengapa kami merangkai Ukhrowi ?

Akh, Ukh, semuanya. .. Saya termasuk generasi pertama dari ukhrowi. Mengapa kupilih kata merangkai ? Karena saya yakin bahwa ukhrowi ini semata-mata hanya untuk merangkai ukhuwah yang selama ini terbatasi oleh sebuah lembaga yang namanya sekolah. Kita sama-sama seorang muslim dan kita tak jauh terpisah oleh lautan luas atau terik padang pasir. Kita hanya dipisahkan oleh sekolah sehingga seolah-olah sebelum ada ukhrowi kita tak kenal siapa saja pemuda-pemuda yang rela untuk mengurus dan memakmurkan masjid sekolahnya di sekitar kita.

Setelah adanya ukhrowi sekat itu mulai terangkat.. Aku mulai mengenal satu demi satu saudaraku semuslim. Ada Rohmat Basuki (SMASA), Heru Sularto (SMASA), Dedy (SMADA), Bayu (SMANIKE), Ali Zainal (Ngrambe), Wahyudi (SMAGO), Adi Purnomo (GRISA), Mufid (MAN PARON), dan banyak lagi.. Kami sering sharing bagaimana kondisi teman-teman di rohis masing-masing.. satu orang cerita dan yang lain mungkin bisa menanggapi sesuai pengalaman dan tentunya harus sesuai ilmu syariat (karena kita ukhuwah di atas islam). Dengan adanya hal semacam ini, obrolan-obrolan ringan dengan ditemani snack kecil-kecilan tak terasa lahir sebuah ukhuwah yang baru.

Ini sebenarnya yang kami inginkan dengan adanya ukhrowi. Ukhuwah Islamiyah. Sebuah harga mati dari ukhrowi ! Tak lebih dari itu.

Lantas pada surat ini, saya ingin menyampaikan 3 hal, yaitu apa yang seharusnya ada pada ukhrowi, apa prinsip ukhrowi, dan beberapa hal yang kuanggap itu salah tentunya dengan dalil.

Apa yang seharusnya ada pada Ukhrowi ?

1. Aqidah yang benar, manhaj (jalan) yang lurus, serta akhlak yang mulia

Apa itu aqidah ? Singkatnya aqidah adalah keyakinan. Apa itu manhaj ? Singkatnya adalah jalan. Apa itu Akhlaq ? Kalian sudah paham.

Aqidah yang lurus sangatlah penting ada di ukhrowi.

Bagaimana mungkin bisa kita berukhuwah diatas islam jika kita beraqidah islam sedangkan ada anggota ukhrowi yang beranggapan bahwa Allah itu punya tandingan ?

Bagaimana mungkin bisa kita berukhuwah diatas islam jika kita beraqidah lurus sedangkan teman kita adalah seorang yang menganggap bahwa Al Qur’an adalah makhluk ?

Bagaimana mungkin bisa kita berukhuwah diatas islam jika kita beraqidah lurus sedangkan teman kita adalah seorang yang menganggap bahwa dirinya tak mungkin akan dimasukkan dalam neraka ?

Bagaimana mungkin bisa kita berukhuwah diatas islam jika kita beraqidah lurus sedangkan teman kita adalah seorang yang menganggap bahwa takdir itu kejam ?

Bagaimana mungkin bisa kita berukhuwah diatas islam jika kita beraqidah lurus sedangkan teman kita adalah seorang yang menganggap sholat yang lima bukan kewajiban ?

Bagaimana mungkin bisa kita berukhuwah diatas islam jika kita beraqidah lurus sedangkan teman kita adalah seorang yang berdoa dan meminta kepada penghuni kubur ?

“ Tidak akan engkau jumpai sebuah kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan rasul-Nya walaupun mereka adalah bapak mereka, anak mereka, saudara mereka, atau keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang dalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan tang datang dari-Nya…” [ Al Mujadilah : 22 ]

Akh, Ukh, mari perbaiki aqidah kita. Saya yakin, umur kita ini tidak akan cukup jika kita ingin terus dan terus untuk mempelajari Aqidah yang lurus.

Manhaj pun demikian. Apa gunanya jika kita mengaku bermanhaj lurus tapi ternyata kita berteman dengan seorang yang memberontak pada pemerintah ? Dsb. Banyaak sekali contoh yang harusnya tertulis di kertas ini namun keterbatasan ilmuku maka akupun tak sanggup menulisnya lagi..

Akhlak juga harus dijaga.

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (Asy-Syu’ara’: 215)

Bahkan Allah pun memuji hamba-Nya sekaligus rasul-Nya yaitu Nabi Muhammad karena akhlaknya..

“ Dan sesungguhnya engkau sungguh ada diatas akhlak yang agung “ ( Surat Al Qalam )

Salah satu cara untuk memperbaiki ukhuwah islamiyah dengan teman adalah dengan menebar salam..

“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman. Dan kalian tidak akan beriman (dengan iman yang sempurna) sampai kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu, yang apabila kalian melakukannya niscaya kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim)

Selain itu masih banyak lagi akhlak mulia lainnya seperti saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran ( Surat Al ‘Ashr ) , dan saling membantu dalam ketaatan ( Al Maidah : 2 ) ..

Maka susah akan terbentuk sebuah persaudaraan diatas islam jika akhlak yang terdapat pada teman-teman adalah akhlak yang buruk.

Tidak saling sapa, justru saling ghibah.

Tidak saling memberi, justru saling iri.

Tidak saling menasehati, justru saling mencaci.

Lantas mau dibawa kemana ukhrowi jika seperti ini ?

2. Ikhlas Niat

Tak ada arti jika suatu ibadah mulia ini tanpa niat yang ikhlas. Potongan hadits ‘Umar yang artinya, “ sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya “, serta firman Allah dalam surat Al Bayyinah ayat lima telah sangat cukup mnjadi pegangan di kedua tangan kita, untuk kita gigit erat dengan geraham kita, bahwa niat itu lillaah..hanya untuk Allah..

Kawan, Sungguh telah dikabarkan pula dalam sebuah hadits bahwa ada 3 orang yang diseret ke neraka karena niat yang salah..

Seorang qori’ yang ingin dikatakan ‘alim, seorang mujahid yang ingin dikatakan pahlawan/pemberani, seorang yang bersedekah yang ingin dikatakan dermawan, Allah seret mereka, wajah mereka ke dalam neraka..

Lantas ? akankah kita datang silaturahim ukhrowi hanya untuk mejeng dapat kenalan ? ya walaupun mungkin awalnya seperti itu namun…seterusnya tak boleh seperti itu. Niat ini harus hanya untuk Allah..Ikhlas, diniatkan untuk Allah, untuk ibadah pada Allah, dan untuk mengerjakan perintah Allah.

3. Majelis

Sebenarnya hal penting selanjutnya adalah saling mengunjungi. Namun pada permasalahan kali ini, saya membuat kesamaannya dengan adanya sebuah majelis. Mungkin selama ini sudah berjalan dengan adanya silaturahim di sebuah sekolah, dsb. Hal ini akan bernilai sangat mulia di sisi Allah jika niat kita benar yaitu untuk mengunjungi (ziarah) ke tempat saudara karena Allah seperti hadits berikut ( coba, simak serius )

Ada seseorang mengunjungi saudaranya di sebuah desa. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus malaikat-Nya untuk menjaganya di dalam perjalanannya. Maka tatkala malaikat tersebut menemuinya, malaikat itu bertanya: “Kamu hendak pergi ke mana?” Dia menjawab: “Aku ingin mengunjungi saudaraku di desa ini.” Malaikat itu bertanya lagi: “Apakah kamu memiliki suatu kenikmatan yang bisa diberikan kepadanya?” Dia menjawab: “Tidak. Hanya saja aku mencintai dia karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Maka malaikat itu menyatakan: “Aku adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadamu (untuk mengabarkan kepadamu) bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala sungguh mencintaimu sebagaimana kamu mencintainya karena-Nya.” (HR. Muslim)

Namun jangan sampai sudah datang jauh-jauh ternyata saat sudah ketemu justru gosip, ghibah, namimah (adu domba), fitnah, dsb.. Maka sungguh telah rugi..sungguh telah rugi.. Jika hal itu terjadi maka ziarah itu bukan karena Allah.. Lihatlah hadits berikut ini.

“Wahai sekalian orang yang telah masuk Islam dengan lisannya dalam keadaan imannya belum masuk ke dalam hatinya. Jangan kalian menyakiti orang-orang muslim. Jangan kalian merendahkan mereka. Dan jangan kalian mencari-cari kelemahannya. Karena barangsiapa mencari-cari kelemahan saudaranya yang muslim, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencari-cari kelemahannya. Dan barangsiapa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala mencari-cari kelemahannya, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membongkar kelemahan atau kekurangannya walaupun dia berada di dalam rumahnya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2032)

4. Pemenuhan hak

“Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada enam. Ditanyakan: “Apa saja wahai Rasulullah?” Beliau berkata: “Bila engkau bertemu dengannya maka ucapkanlah salam kepadanya, bila dia mengundangmu maka penuhilah undangannya, bila dia meminta nasihat maka berilah dia nasihat, bila dia bersin lalu memuji Allah maka jawablah, bila dia sakit maka jenguklah, dan bila dia mati maka ikutilah (jenazahnya).”

Maka telah jelas bahwa tidak selayaknya kita menelantarkan hak sesama muslim ini..

5. Pemimpin yang Sholih

“ Wahai orang-orang yang beriman, taatlah pada Allah, dan taatlah pada Rasul, dan pada ulil amri kalian “. [ An Nisaa ]

Jelas, sangat jelas. Taat pada pemimpin adalah sebuah keharusan selama perintahnya itu tidak untuk maksiat karena telah datang hadits dari Rasulullah bahwa

“ Laa thoo’atan li makhluuqin fii ma’shiyatil khooliq “, “ Tidak ada ketaatan pada makhluk dalam memaksiati Al Khooliq ( Allah ) “.

Taatilah pemimpin kalian. Adapun kepemimpinan itu adalah tugas bagi seorang laki-laki.

“ Ar rijaalu qowwamuuna ‘alan nisaa “, “Laki-laki itu pemimpin/pelindung bagi perempuan”

Maka selayaknyalah pengurus ini dipegang oleh laki-laki saja. Mungkin akan muncul pertanyaan dari hal ini, maka insya Allah akan datang penjelasannya jika engkau terus membacanya.

Apa prinsip Ukhrowi ?

Entah apakah ini pantas untuk disebut prinsip. Namun aku menganggapnya sebagai sebuah hal yang sangat penting bagi ukhrowi..

“ Apa-apa yang bisa membuat ukhuwah ini menjadi kuat, maka lakukanlah SELAMA ADA DALILNYA ( Al Qur’an atau Hadits yang Shohih ) “

Karena agama ini telah sempurna kawan.. Telah sempurna..

“ Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan padamu nikmat-Ku, dan Aku ridho untukmu Islam sebagai agama “ ( Surat Al Maidah )

Lantas apakah engkau akan menambahinya lagi, Ukhrowi ? Apakah engkau anggap bahwa syariat ini belum sempurna ? Jika engkau menganggapnya seperti itu, maka sungguh telah engkau telah merendahkan Allah dengan mengatakan bahwa syariat ini belum lengkap dan engkau telah mengkhianati Rasul dan menganggap bahwa Rasul telah berkhianat ( ada syariat yang belum disampaikan ) ??

Sungguh, sungguh jangan Ukhrowi.. jangan.. Walaupun mungkin di logikamu itu terasa baik akan tetapi jangan engkau lakukan. Siapa yang menganggap bahwa menambah 1 rakaat pada sholat ashar menjadi 5 rakaat itu jelek ? logika yang sehat akan mengatakan itu baik, NAMUN pasti Allah akan mengadzabnya. Mengapa ? Apakah karena satu rakaat yang ditambahkan ? BUKAN, karena engkau tidak mengikuti Allah dan Rasul-Nya…

Kalaulah jika agama ini diatas logika, maka alas khuf (apapun yang menutup dari ujung jari kaki sampai menutup mata kaki) lebih layak untuk diusap dibanding punggung atas khuf. NAMUN, islam mensyariatkan bagi orang yang memakai khuf jika ia memakai khuf dalam keadaan suci, maka ketika hendak berwudhu lagi ia cukup mengusap BAGIAN ATAS khuf bukan melepasnya lalu membasuh kakinya. Namun sekali lagi, jika islam ini diatas logika maka bagian bawah khuf lebih layak untuk diusap.

Selain itu, tahukah engkau Ukhrowi bahwa ada satu hadits dari ‘Umar ibn Khoththob yang diriwayatkan oleh dua Imam besar ( Al Bukhori dan Imam Muslim ) yang dicantumkan oleh Asy Syaikh Abdul Ghoni Al Maqdasiy dalam kitabnya Umdatul Ahkam dalam kitab Haji

‘Umar berkata “ Sungguh aku sangat tahu bahwa engkau hanyalah sebuah batu, tidak bisa memberi manfaat maupun mudharat, jikalau seandainya aku tidak melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu maka aku tak akan menciummu “

Lihatlah Ukhrowi, akal sehat pasti akan mengatakan “ Gila, tak ada artinya mencium batu… “. Namun inilah syariat kawan, selama itu ada dalilnya maka masuk akal atau tidak, kewajiban kita adalah beriman dan mengamalkannya..

Kita adalah hamba.. Ta’abudiyah.. Kita hamba Allah..

Beberapa hal yang kuanggap perlu dikoreksi dalam ukhrowi

Rapat Ikhwan Akhwat

Menurutku kalau hanya rapat, cukup ikhwan saja. Jika akhwat perlu tahu hasilnya bisa dipost di FB (manfaatkan fasilitas grup yang ada) dan bisa disampaikan masukan dan saran dari akhwat lewat FB. Ingat akhlak yang baik ketika di FB juga. Jadi ane sarankan, akhwat ukhrowi ada grup khusus untuk rapat intern akhwat.

Mengapa ?

Karena pada fitrahnya wanita itu di rumah saja.

“ Hai isteri-isteri Nabi, kalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kalian bertaqwa. Maka janganlah kalian melembutkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik, dan hendaklah kalian tetap tinggal di rumah kalian serta janganlah kalian bertabarruj seperti tabarrujnya orang-orang jahiliah yang dulu. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya “ ( Al Ahzab : 32-33 )

Jika para istri Nabi saja diperingatkan oleh Allah tentang itu, maka wanita lain lebih pantas lagi untuk diperingatkan karena wanita lain jauh lebih rentan dari fitnah-fitnah yang ada. Di ayat itu pula telah dijelaskan bahwa wanita dilarang melembutkan suara dalam berbicara dan larangan bertabarruj seperti tabarrujnya orang-orang jahiliah yang dulu. Tabarruj adalah berpakaian tapi telanjang.

Maka wahai saudaraku dan saudariku, cukuplah yang rapat itu ikhwan saja.. Aku tak ingin akhwat sibuk-sibuk pulang pergi hanya untuk ikut rapat, ngurus uang, surat, dsb padahal telah jelas perintah dari Allah diatas.

Lantas apa salah satu hikmah dari syariat ini ?

Telah terbukti kawan. Coba kalian simak salah satu status di FB yang kudapatkan, kejadian nyata di Bandung.

===

Modus baru copet di angkot, waspadalah!

Temen2, kita musti lebih ekstra WASPADA lagi sekarang, ini Copas dari teman :

Dear Friends…

Saya mau sedikit sharing, mengenai modus pencopetan di angkot..

biasanya kan kalo angkotnya laki-laki semua, suka serem ga jadi naik, tapi skrng “Ibu-ibu juga bisa jadi pelaku pencopetan..!!”

Gini ceritanya :

Minggu pagi jam 9, tgl 29 Jan 2012, saya naik angkot Caheum Ciroyom dari depan Unpad, mau ke Pasteur. Diangkotnya udah penuh, isinya ibu2 ada yg bawa sayuran, ada yg bawa anak laki2 (sekitar umuran SD kls 3 an), ada juga ibu yang pake training keliatan abis olahraga gitu pake sepatu olah raga pake jilbab duduk di deket pintu..

(SEMUA DIANGKOT IBU-IBU, KECUALI SOPIR). Tadinya kepikiran mau duduk di depan, tapi ada orgnya 2 orang. Ada perempuan yang asik bbm-an sambil ngedengerin musik pake hedset gede, malah saya sempet risih, “duh, dia ga hati2 bgt sih bbm-an diangkot”

Angkot jalan kayak biasanya, agak ga enak gtu jalannya, gas ga teratur.. sampe di deket hasan sadikin belakang..

(Jadi rute angkotnya, sebelum ciwalk dia belok kanan) ehh, berhenti ngedadak keras bgt., Angkot berenti, langsung di detik yang sama, ibu2 narik tas saya. (Saya duduk paling pojok deket kaca). Sampe robek tasnya, ada ibu2 yg pake baju olahraga tadi, ngebuka tas dan ngambil hp & dompetnya.. langsung lari ke gang sempit.. saya berusaha keluar angkot itu, TERNYATA SEMUA PENUMPANG ANGKOT YG IBU2 ITU

COPET!!” pas keluar dan berusaha ngerebut tas, badan saya dipegangin, narik2 baju, jam tangan ditarik juga sama anak laki2 yang seusia SD itu.. Alhamdulilah, susah payah ngelepasin tangan2 ituu dari badan saya. masih bisa keluar angkot bawa tas yang udah kebuka dan robek, ngejar ibu2 yg bawa hp saya.. Tapi supir angkotnya diem aja.. ga nolongin Saya udah teriak sambil nangis ga karuan lah..

Eh ibunya lari kenceng banget, tapi untung masih kekejar walaupun lagi pake kelom dan megang tas yg kebuka.. ibunya di sleding aja kakinya, sampe ibunya jatoh.. cepet2 saya ambil dompet & hp saya.. langsung lari ninggalin ibu2 itu. ehh ternyata dia

masih ngejar, saya dorong badannya sampe jatoh.. saya lari lagi, nyebrang cepeett… ibunya kalah cepet keburu kehalangin mobil pas waktu nyebrang.Saya masuk ke pom bensin, mau ngumpet, karena ibunya masih ngejar… alhamdulilah ada taxi blue bird

lagi isi bensin, langsung aja saya masuk dengan badan yang gemeter & pucet banget..Saya udah teriak2 minta tolong,sayangnya, ga ada satupun yang nolongin,

padahal disitu banyak orang, rame banget..

Ini kejadian ke 5x nya, saya hampir kecopetan diangkot.. masih ga ngerti juga kenapa, padahal diangkot saya ga pernah ngeluarin hp, dompet, dll.. saya cuma pegang uang ongkos aja..

Temen2 lebih hati2 yaa.. semoga kejadian ini ga terjadi lagi, buat saya juga buat temen2 semua.. Aamin..

Kalo temen2 ada tips, naek angkot yg aman, silahkan di share juga..

Note:

- Harus lebih waspada lagi, mending

nunggu angkot yang bangku depannya

kosong

- Modusnya udah banyak bgt, jadi ga

gampang percaya juga walaupun

perempuan kyk ibu2 itu..

- Alhamdulilah, masih diselamatkan Allah

dan barang saya ga ada yang

ilang. Walaupun trauma masih serem

klo naek angkot,.

- Selalu mengingat Allah, agar kita

mendapatkan pertolongan saat apapun

yang terjadi..

Smoga bisa jadi sharing yang

bermanfaat yaa..

Salam,

kalo kata temen saya, biasanya kaya gini komplotan ama sopir, gas gak teratur dan berhenti ngedadak keras itu mungkin sebuah kode buat langsung ngejalanin aksi

apalagi ditambah si sopir yang gak noloongin

ini tulisan copas dari temen paguyuban anak-anak solo

WASPADALAH.. WASPADALAH…

===

Perempuan keluar rumah itu sangat besar resikonya. Ya mungkin teman-teman beranggapan bahwa Ngawi masih aman-aman saja. Namun apakah kalian tahu dibalik hati orang-orang sekitar ? siapa tahu mereka menyimpan niat bejat terhadap kalian ? Bukannya ini suudzon Namun ini hanya sikap berhati-hati. Tidak ada salahnya. Toh jika terjadi hal yang tidak diinginkan maka jelas kita yang rugi. Mungkin kehormatan, Harta, atau Darah kaum muslimin terlanggar haknya. Padahal Rasul telah bersabda

“ Muslim atas muslim lainnya adalah haram, (yaitu) darahnya, hartanya, dan kehormatannya “

Haram yang dimaksud adalah kita harus menjaganya, tidak boleh dilanggar.

Saudariku, suaramu itu juga sangat berharga.. Aku yakin entah itu laki-laki sholih ataupun bejat jika ia ada penyakit hati lalu mendengar suara lembut seorang sholihah maka ia akan ada keinginan padamu. Entah apa itu. Lantas siapa yang bisa menjamin pada seseorang itu tidak ada penyakit hati ? Apakah engkau bisa melihat hati seseorang ? Tidak Ukhtiy.. Hanya Allah yang tahu. Maka berhati-hatilah.

Begitupun Tabarruj. Sekarang sudah mulai bertebaran JILBAB MODIS. Naon eta ? Silakan berkaca sendiri, apakah jilbabmu sudah bisa menjagamu dari lelaki ?

Jika hijabmu itu sudah bisa menjagamu maka itu hijab yang benar, namun jika belum maka hijab itu belum benar.

Lantas apa saja yang bisa membuat lelaki tertarik ?

Warna mencolok. (apalagi ditambah motif bunga, dsb)
Ketat
Terawang
Tidak menutup seluruh tubuh

Satu dari empat hal itu jika masih ada di hijab seorang wanita maka laki-laki pada umumnya akan tetap tertarik dan ada keinginan padamu. Coba pikirkan dan sadari.

Apa gunanya hijab jika warnanya pink ? justru menarik pandangan.

Apa gunanya hijab jika ketat ? justru tampak telanjang membentuk lekuk tubuhmu.

Apa gunanya hijab jika terawang ? akan terlihat kulitmu.

Apa gunanya hijab jika tidak menutup seluruh tubuh ? Rambut tertutup tapi kaki terbuka ? atau yang lainnya..

Jika bisa dibandingkan, wajahmu itu mutiara. Jika mutiara itu terlalu sering terlihat maka keindahannya pun akan tak bernilai lagi. Ah biasa„ah biasa.. Maka, simpan untuk suami tercintamu. Aku yakin dia sedang dalam perjalanan menjemputmu. Tunggulah ia di rumahmu.. ( Namun tak bisa disamakan dengan mutiara, muslimah sholihah itu perhiasan terindah di dunia )

Kuharap kalian benar-benar paham. Semoga Allah memberi hidayah-Nya kepada kita..

Selain ayat itu, juga banyak ayat lain yang memerintahkan untuk menahan pandangan ( An nuur : 30-31 ) yang kuyakin sudah kalian ketahui atau mungkin sudah menghafalnya.

Pengurus Akhwat

Pengurus akhwat menurutku tidak perlu. Penjelasannya seperti apa yang telah ada di poin sebelumnya. Hanya saja disini mari kita rehat sejenak untuk sedikit melihat para shohabiyah. Wanita-wanita muslim yang bertemu dengan rasul dan beriman kepada apa yang rasul bawa dan mati dalam keadaan islam. Mereka adalah generasi wanita terbaik yang telah dinyatakan oleh Allah dalam Al Quran.

Coba kita telisik, apakah dulu ketika Rasul berdakwah, ‘aisyah (istri Rasul) juga ikut rapat ?

Tidak. Padahal ‘Aisyah adalah wanita paling berilmu secara mutlak.

Maka saranku adalah mulai dari ketua sampai pengurus-pengurus di blok dipegang oleh laki-laki. Cukuplah akhwat itu mengurus bagian akhwat sendiri, jangan sampai akhwat itu sibuk2 ngurus surat ijin lah, ngurus ijin tempat lah, dsb. Akhwat itu kalaupun ngurus yang ngurus snack semampunya, ngurus pengumpulan infaq dari akhwat, ngurus ukhuwah antara akhwat, dsb. Kehormatan perempuan muslim lebih berharga dibanding rapat-rapat itu. Aku tak ingin kehormatan saudariku ada yang tercabik lagi. Kalian pasti juga tak mau.

Jadi, akhwat itu ga perlu banyak keluar namun ukhuwah kalian erat. Manfaatkan sebaik mungkin jika ada kesempatan bertemu..

Halal bihalal

Mungkin tujuan adanya halal bihalal adalah untuk meminta kehalalan kepada saudara kita atas dosa-dosa kita. Namun satu pertanyaan, apakah hanya waktu itu kita minta kehalalan/minta maaf ? Tentunya tidak.

Aku sarankan, jangan anggap acara ini adalah tuntunan dari Nabi karena Nabi tidak mencontohkannya ( tidak ada dalilnya mengkhususkan setelah idul fitri ). Namun jika kalian ingin mengadakannya, maka niatkanlah hanya untuk silaturahmi dan tidak menganggapnya ini sunnah(tuntunan) dari Rasul.

Mabit

Mabit (kalau tidak salah) diambil dari kata baata, yabiitu, menjadi mabit yang artinya bermalam. Mabit ini disyariatkan kepada muhrim (orang yang sedang berihrom). Mereka diperintah untuk mabit di Mina selama beberapa malam.

Namun bagaimana dengan mabit di sekolah dsb?

Allahu a’lam. Aku belum tahu dalilnya. Satu poin yang paling kusangsikan dari mabit yang biasa diadakan. Mengapa akhwat juga ikut mabit ?

Bahwa wanita itu hakikatnya berada di rumah. Coba kita ambil kemungkinan-kemungkinan. Coba bagaimana kalau pas mabit ada oknum yag tidak dikenal/dikenal menyatroni ruangan akhwat ? dsb. Tentunya kita tidak menginginkan hal itu terjadi. Namun alangkah baiknya jika itu semua kita antisipasi dengan cara yang dituntunkan Islam, yaitu wanita itu hakikatnya berada di rumah.

Bahkan, teman-teman kuyakin sudah pernah mendengar hadits yang berbunyi.

“ … Sholat seorang wanita di rumah itu lebih afdhol daripada di masjidku … “

Itu adalah sebuah cuplikan hadits panjang yang intinya bahwa sholat di masjidil haram itu 10.000 x lipat, di masjid nabawi itu 1000 x lipat, di masjidil aqsha itu 500 x lipat, lalu Rasul menyebutkan kalimat tadi “ … Sholat seoarang wanita di rumahnya itu lebih afdhol daripada di masjidku (masjid nabawi) … dan sholat wanita di kamarnya lebih afdhol dibanding di rumahnya, dan sholat seoarng wanita di bagian khusus tersendiri di kamarnya itu lebih afdhol dibanding di kamarnya. “

Lihatlah kawan, bahkan ibadah yang wajib saja (sholat) Allah memerintahkan wanita untuk melakukannya di rumah. Apalagi sekedar mabit.. Renungkan wahai saudara dan saudariku.

Atribut/Jaket

Keren. Mungkin itu efek pertama dengan diadakannya jaket ukhrowi. Trus mungkin dengan adanya jaket akan menambah rasa ukhuwah diantara anggota ukhrowi. Namun kawan, belum pernahkah kalian mencoba untuk berpandangan lebih jauh dibanding hanya sekedar apresiasi “keren” ? dibanding ukhuwah antar anggota ukhrowi ?

Jauh atau dekat, aku rasa akan timbul sebuah sekat antara kalian dan teman-teman rohis yang tidak ikut ukhrowi.

Jauh atau dekat, aku rasa akan timbul sebuah sekat antara kalian dan teman-teman yang tidak ikut rohis.

Bukankah mereka yang tidak punya jaket itu juga muslim ?

Aku khawatir mereka akan beranggapan Ukhrowi Eksklusif, Ukhrowi bukan untukku, Ukhrowi itu punyamu, dsb. Bukannya ukhrowi itu untuk menjalin ukhuwah bukan untuk menyekat ukhuwah ?

Selain itu, mungkin pula akan timbul rasa bangga diri dari anggota ukhrowi dengan memakai jaket itu.

“ Nih, aku ikut ukhrowi.. “ gumam dalam hati.

“ Nih, jaket ukhrowi lebih bagus daripada jaketmu.. “ gumam dalam hati..

Dsb.

Saranku, tinggalkan atribut. Semua atribut. Bukankah dulu para shahabat juga tanpa atribut ?

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali ‘Imran: 103)

Lihatlah, dulu rasa kesukuan itu sangat kental sehingga mereka saling berceri berai. Namun ketika islam datang… Allah membuat mereka bersaudara karena Islam.

Para shahabat bangga dengan pakaian islam, bukan pakaian suku/organisasi, dsb. Jubah, sarung, sarowil, gamis, peci, imamah, dsb. Aku tak ingin virus ashobiyah ituu muncul di ukhrowi setelah islam jauh-jauh hari telah melenyapkannya..

Progja Besar

Ukhuwah tak harus dengan keterpaksaan. Ukhuwah bisa dieratkan dengan hal-hal kecil. Kami dulu beranggapan bahwa kami tak akan memberatkan diri sendiri, entah itu dengan iuran kas yang berlebihan atau dengan kegiatan yang besar. Kami dulu sadar, kami bisa berkumpul berbincang menanyakan kabar sudah membuat kami senang, ukhuwah terjalin, dan berkelanjutan. Kami sadar, kami tidak setip hari bertemu, kami tidak berada di satu daerah dekat, kami tidak ada investasi banyak, maka dari itu kami tekadkan bahwa kami jalin ukhuwah ini dengan kesederhanaan. Menerima apa yang bisa kami lakukan, walaupun itu kecil. Manfaat lebih kami utamakan bukan pamor ataupun yang lainnya. Adapun cara lain jika ingin sering bertemu adalah ketika ada acara dari sebuah rohis, kami usahakan datang berkunjung ke acara tsb. Namun tentu dengan timbangan syariat, apakah acara itu sesuai dengan syariat atau tidak.

Oleh karena itu, saya sarankan agar menjalin ukhuwah ini cukup dengan hal sederhana. Senyum, tebar salam, saling memberi hadiah, dsb. (kuyakin kalian sudah tahu masing-masing hadits yang menunjukkan 3 perkara tsb)

Jangan merasa kurang dengan ukhuwah. Karena sesungguhnya ukhuwah ini tergantung orang. Jika orang tsb ingin kuat ukhuwah dengan saudaranya, maka ia akan mengingat-ingat kebaikan saudaranya ketika bertemu. Mungkin ia tulis dalam sebuh catatan harian. Lalu ketika senggang ia baca catatan itu, teringat kebaikan saudaranya, maka insya Allah akan tmbul rasa rindu karena Islam kepada saudaranya tsb. Mudah kan ?

Bangun ukhuwah diatas kesederhanaan

Saudaraku yang semoga dirahmati Allah, mungkin banyak kata yang lancang. Mungkin banyak hal yang tak bisa kalian terima. Mungkin banyak hal yang salah. Namun inilah suratku untukmu, ukhrowi. Sebuah majelis yang keharap dapat menjadi jembatan panjang ukhuwah kita..ukhuwah di atas islam, bukan ukhuwah di atas golongan ataupun yang lainnya.

Akhirnya cukup sekian. Al ‘afwu minkum. Ini saran, jika diterima alhamdulillaah, jika tidak, maka aku sudah menyampaikan. Wal ‘Ilmu indallaah. Ilmu itu disisi Allah. ‘afwan jika ada tutur kata yang salah.

#Bukan dariku
penulis : Abu Abdirrohman

Total comment

Author

Unknown

Baitullaah

pict : google.com
Baitullaah yang sekarang menjadi tempat belajar favorit adik-adik Nurul Hikmah, tempat dzikir seseorang yang ‘mulia’, tempat lahirnya seorang Qori’ luar biasa, tempat untuk curahkan cita-cita seorang hafidz, tempat ngaji adik-adik yang gemar dengan baca Quran, tempat untuk saling faastabiquul khoiroot, tempat ‘Imam dan Makmum' yang shalih. insyaa Allah, itulah tempat orang-orang yang begitu di Kasih-i Nya…
'Merindukannya bersama Doa'

Total comment

Author

Unknown
28 Februari 2014 pukul 8:02 - Ummi Elin Herlina
pict : google.com

Ketika akhirnya saya dilamar oleh seorang lelaki, saya luruh dalam kelegaan. Apalagi lelaki itu, kelihatannya ‘relatif’ sempurna. Hapalannya banyak, shalih, pintar. Ia juga seorang aktivis dakwah yang sudah cukup matang. Kurang apa coba?


Saya merasa sombong! Ketika melihat para lajang kemudian diwisuda sebagai pengantin, saya secara tak sadar membandingkan, lebih keren mana suaminya dengan suami saya.


Sampai akhirnya air mata saya harus mengucur begitu deras, ketika suatu hari menekuri 3 ayat terakhir surat At-Tahrim. Sebenarnya, sebagian besar ayat dalam surat ini sudah mulai saya hapal sekitar 10 tahun silam, saat saya masih semester awal kuliah. Akan tetapi, banyak hapalan saya menguap, dan harus kembali mengucur bak air hujan ketika saya menjadi satu grup dengan seorang calon hafidzah di kelompok pengajian yang rutin saya ikuti.

Ini terjemah ayat tersebut:

66:10. Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya); Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)”.

66:11. Dan Allah membuat istri Firaun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang lalim”,

66:12. dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab-Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat.

SEBUAH KONTRADIKSI

Ada 4 orang yang disebut dalam 3 ayat tersebut. Mereka adalah Istri Nuh, Istri Luth, Istri Firaun dan Maryam. Istri Nuh (IN), dan Istri Luth (IL) adalah symbol perempuan kafir, sedangkan Istri Firaun (IF) dan Maryam (M), adalah symbol perempuan beriman. Saya terkejut, takjub dan ternganga ketika menyadari bahwa ada sebuah kontradiksi yang sangat kuat. Allah memberikan sebuah permisalan nan ironis. Mengapa begitu?

IN dan IL adalah contoh perempuan yang berada dalam pengawasan lelaki shalih. Suami-suami mereka setaraf Nabi (bandingkan dengan suami saya! Tak ada apa-apanya, bukan?). Akan tetapi mereka berkhianat, sehingga dikatakanlah kepada mereka, waqilad khulannaaro ma’ad daakhiliin…
Sedangkan antitesa dari mereka, Allah bentangkan kehidupan IF (Asiyah binti Muzahim) dan M. Hebatnya, IF adalah istri seorang thaghut, pembangkang sejati yang berkoar-koar menyebut “ana rabbakumul a’la.” Dan Maryam, ia bahkan tak memiliki suami. Ia rajin beribadah, dan Allah tiba-tiba berkehendak meniupkan ruh dalam rahimnya. Akan tetapi, cahaya iman membuat mereka mampu tetap bertahan di jalan kebenaran. Sehingga Allah memujinya, wa kaanat minal qaanithiin…

PEREMPUAN SEMPURNA

Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda:
"Sebaik-baik wanita penghuni surga itu adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Asiyah binti Muzahim istri Firaun, dan Maryam binti Imran." (HR. Ahmad 2720, berderajat shahih).
Empat perempuan itu dipuji sebagai sebaik-baik wanita penghuni surga. Akan tetapi, Rasulullah saw. masih membuat strata lagi dari 4 orang tersebut. Terpilihlah dua perempuan yang disebut sebagai perempuan sempurna. Rasul bersabda, “Banyak lelaki yang sempurna, tetapi tiada wanita yang sempurna kecuali Asiyah istri Firaun dan Maryam binti Imran. Sesungguhnya keutamaan Asiyah dibandingkan sekalian wanita adalah sebagaimana keutamaan bubur roti gandum dibandingkan dengan makanan lainnya.” (Shahih al-Bukhari no. 3411).

Inilah yang membuat saya terkejut! Bahkan perempuan sekelas Fathimah dan Khadijah pun masih ‘kalah’ dibanding Asiyah IF dan Maryam binti Imran. Apakah gerangan yang membuat Rasul menilai semacam itu?

Ah, saya bukan seorang mufassir ataupun ahli hadits. Namun, dalam keterbatasan yang saya mengerti, tiba-tiba saya sedikit meraba-reba, bahwa penyebabnya adalah karena keberadaan suami. Khadijah, ia perempuan hebat, namun ia tak sempurna, karena ia diback-up total oleh Muhammad saw., seorang lelaki hebat. Fathimah, ia dahsyat, namun ia tak sempurna, karena ada Ali bin Abi Thalib kw, seorang pemuda mukmin yang tangguh.

Sedangkan Asiyah? Saat ia menanggung deraan hidup yang begitu dahsyat, kepada siapa ia menyandarkan tubuhnya, karena justru yang menyiksanya adalah suaminya sendiri. Siksaan yang membuat ia berdoa, dengan gemetar, “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang lalim.” Siksaan yang membuat nyawanya terbang, ah… tidak mati, namun menuju surga. Mendapatkan rizki dan bersukaria dengan para penduduk akhirat.

Bagaimana pula dengan Maryam? Ia seorang lajang yang dipilih Allah untuk menjadi ibunda bagi Nabi Isa. Kepada siapa ia mengadu atas tindasan kaumnya yang menuduh ia sebagai pezina?
Pantas jika Rasul menyebut mereka: Perempuan sempurna…

JADI, YANG MENGANTAR ke Surga, Adalah Amalan Kita

Jadi, bukan karena (sekadar) lelaki shalih yang menjadi pendamping kita. Suami yang baik, memang akan menuntun kita menuju jalan ke surga, mempermudah kita dalam menjalankan perintah agama. Namun, jemari akan teracung pada para perempuan yang dengan kelajangannya (namun bukan sengaja melajang), atau dengan kondisi suaminya yang memprihatinkan (yang juga bukan karena kehendak kita), ternyata tetap bisa beramal dan cemerlang dalam cahaya iman. Kalian adalah Maryam-Maryam dan Asiyah-Asiyah, yang lebih hebat dari Khadijah-Khadijah dan Fathimah-Fathimah.
Sebaliknya, alangkah hinanya para perempuan yang memiliki suami-suami nan shalih, namun pada kenyataannya, mereka tak lebih dari istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth. Yang alih-alih mendukung suami dalam dakwah, namun justru menggelendot manja, “Mas… kok pergi pengajian terus sih, sekali-kali libur dong!” Atau, “Mas, aku pengin beli motor yang bagus, gimana kalau Mas korupsi aja…”
Benar, bahwa istri hebat ada di samping suami hebat. Namun, lebih hebat lagi adalah istri yang tetap bisa hebat meskipun terpaksa bersuamikan orang tak hebat, atau bahkan tetapi melajang karena berbagai sebab nan syar’i. Dan betapa rendahnya istri yang tak hebat, padahal suaminya orang hebat dan membentangkan baginya berbagai kemudahan untuk menjadi hebat. Hebat sebagai hamba Allah!

Wallahu a’lam bish-shawwab.

Semoga bermanfaat…
Repost from: Afifah Afra

Total comment

Author

Unknown
pict : google.com
Hati yang sehat dan selamat -kata Ibnul Qayyim- adalah hati yang lepas dari noda syirik dan mengikuti ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah hati yang nantinya bermanfaat ketika bertemu Sang Khalik di hari kiamat kelak.
Perlu kita tahu bahwa hati itu ada tiga macam. Ada hati yang sehat (selamat dari penyakit), hati yang sakit dan hati yang mati. Ketiga jenis hati ini disebutkan dalam ayat berikut ini,
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّى أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنْسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ آَيَاتِهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (52) لِيَجْعَلَ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ فِتْنَةً لِلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ (53) وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آَمَنُوا إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (54)
Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit (hati yang sakit) dan yang mati hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat, dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu (yang punya hati yang sehat), meyakini bahwasanya Al Quran itulah yang hak dari Rabb-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.” (QS. Al Hajj: 52-54). Dalam ayat ini, disebutkan tiga macam hati, yaitu dua hati yang terkena fitnah dan satu hati yang selamat. Hati yang terkena fitnah adalah hati yang sakit dan yang mati. Sedangkan hati yang selamat adalah hati orang beriman yang selalu tunduk dan patuh pada Rabb-Nya, serta selalu merasakan ketenangan.
Bagaimana keadaan hati yang sehat?
Hati yang sehat, itulah yang akan selamat pada kegentingan hari kiamat kelak. Sebagaimana AllahTa’ala berfirman,
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (89)
(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy Syu’araa’: 88-89).
Hati yang sehat adalah hati yang selamat dari syahwat yang menyelisihi perintah dan larangan Allah dan selamat dari syubhat yang bertentangan dengan kabar dari Allah, selamat dari penghambaan pada selain Allah, selamat dari berhukum pada selain hukum Rasulullah. Hati yang sehat juga selamat dari cinta ibadah yang menduakan Allah, dari takut ibadah yang menduakan Allah, begitu pula dari rasa harap yang menduakan Allah. Intinya, segala ubudiyah (penghambaan) hanyalah ditujukan pada Allah, itulah hati yang selamat. Demikian kalimat yang jaami’ ketika mendefinisikan hati yang sehat sebagaimana diuraikan oleh Ibnul Qayyim.
Hati yang sehat, selamat dari syirik (penghambaan ibadah pada selain Allah) dan hati tersebut tunduk pada syari’at yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dua unsur penting ini dimiliki oleh orang yang memiliki hati yang sehat. Demikian kesimpulan dari Ibnul Qayyimrahimahullah.
Dalam ibadah ditanyakan dua hal, yaitu: (1) Mengapa? (2) Bagaimana?
Sebagian salaf berkata,
ما من فعلة وإن صغرت إلا ينشر لها ديوانان : لم وكيف أى لم فعلت وكيف فعلت
“Setiap amalan tidak lepas dari dua pertanyaan yaitu mengapa dan bagaimana, maksudnya (1) mengapa dilakukan? (2) bagaimana dilakukan?” (Ighotsatul Lahfan, 1: 42).
Pertanyaan pertama dimaksudkan apakah motivasi yang mendorong melakukan amalan tersebut, apakah dilakukan untuk meraup keuntungan dunia, suka akan pujian manusia, takut pada celaan mereka, ataukah ingin mendekatkan diri pada Allah.
Pertanyaan kedua dimaksudkan bagaimana amalan tersebut dilakukan, apakah sesuai yang disyari’atkan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- ataukah tidak.
Intinya, pertanyaan pertama tentang ikhlas dalam amalan, sedangkan pertanyaan kedua tentangittiba’ (mengikuti ajaran Rasul - shallallahu ‘alaihi wa sallam-). Amalan tidaklah diterima melainkan dengan memenuhi dua syarat ini. Sehingga hati yang selamat dan meraih kebahagiaan adalah hati yang ikhlas dan hati yang berusaha mengikuti setiap petunjuk Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam amalan ibadah. Sehingga Ibnul Qayyim pun mengatakan,
فهذا حقيقة سلامة القلب الذي ضمنت له النجاة والسعادة
Inilah (hati yang ikhlas dan ittiba’) itulah hakikat hati yang salim, yang akan meraih keselamatan dan kebahagiaan.” (Ighotsatul Lahfan, 1: 43).
Semoga Allah menganugerahkan pada kita hati yang sehat, bersih dari noda syirik dan noda amalan tiada tuntunan.
Wallahu waliyyut taufiq.
-repost FSLDK Indonesia-

Total comment

Author

Unknown