Formulir Kontak

 

Asa

Banyaknya amal dan amanah bukan penentu seseorang untuk masuk ke syurga Nya. Banyaknya kontribusi kemasyarakat bukan jaminan diri yang paling benar dan bijak dalam menentukan skala prioritas. Sama sekali.

Masih ingat? Kisah seorang ulamaa’ dengan karya buku yang berjilid-jilid. Peristiwa yang menjadi perenungan bersama tentang makna amalan dan rahmat. Suatu ketika beliau ditakdirkan Allah untuk belajar dari peristiwa mati sesaat (dalam bahasa jawa namanya mati suri). Setelah tersadar dari kematiannya, beliau ditanya tentang apa yang menolongnya saat ia berada di alam akhirat? Jawab beliau hanya ‘satu’. Yakni 2 rakaat sholat malamnya.  Kemana jilid-jilid karya dan amalah-amalan beliau yang lain? Allah

Tidak habis pikir dengan skenarionya Allah. Rahmat-Nya sekali lagi bukan karena banyak pencapaian amal yang tertunaikan. Dengan apa syarat amal itu diterima? Yaa, salah satunya yakni keikhlasan.

Yang kita lakukan adalah upaya perbaikan. Senantiasa minta untuk dibimbing dan ditarbiyah sama Allah. Hingga akhirnya, kehidupan ini diakhiri dengan kematian yang baik. Kematian yang dirindukan oleh semua orang. Kematian yang menjadi gerbang pertemuanya dengan sang khaliq. Kematian dengan bau harum syurga yang semerbak wangi. Kematian yang semua ridho atas meninggalnya sang mayit. Kematian yang tidak hanya orang tua dan kolega yang mengiringi, tapi malaikat-malaikat Nya pun turut mengiringi. Kematian yang tidak meninggalkan hutang sedikitpun. Kematian yang khusnul khotimah. Allah, rahmatilah kami.



 pict : asn

Total comment

Author

Unknown