Formulir Kontak

 

Keping Hati di Masa 'Putih Abu-Abu'


Kami, dilahirkan dari rahim hangat da’wah sekolah. Diasuh oleh ketulusan para mentor dan murobbi sekolah membuat kami mampu tegak berdiri menghadapi berbagai permasalahan tidak hanya di dunia sekolah tapi juga di dunia mahasiswa.
Hingga kini kami bertahan…
Fabi ayyi aalaa-i robbikumaa tukadzdzibaan
---
Da’wah, rasanya bisa dikatakan menjadi tempat dimana semua keterbatasan ada, keterbatasan SDM, keterbatasan dana, keterbatasan waktu, bahkan terkadang keterbatasan izin orangtua. Namun ternyata da’wah mampu mengalirkan keberlimpahan cinta untuk sesama, keberlimpahan inspirasi, dan keberlimpahan cahaya yang mencerahkan.
Tak perlu jauh mencari bukti,
Di dekat, bukti itu adalah kami,
Juga kalian.
Di tempat yang jauh, bukti itu tersebar dari Gaza hingga Papua, torehan peristiwa ajaib yang memukau kehidupan.
Bacalah-carilah, kelak bukti itu akan membuat kita bersyukur pernah disentuh oleh da’wah.
Da’wah selalu mencerahkan.

Dan istimewanya,
Da’wah sekolah selalu mendapat kesempatan pertama untuk mencerahkan manusia,
Itu karena da’wah sekolah berhadapan dengan para manusia belia, para calon pelanjut generasi bangsa yang tulang belulangnya masih kokoh berdiri, yang senyumannya masih secerah mentari pagi.

Tak usah menunggu tua untuk melihat perubahan, di sekolah yang di’cerahkan’, musholla selalu tampak penuh dengan jejalan putih abu di jama’ah dhuha,
Kemeja siswa tampak menggembung diisi mush’af,
Tahajjud bersama pun digelar,
Dengungan tilawah dan hapalan menembus telinga yg masih ada setitik keimanan.

Bukan itu saja,
Belia-belia putih abu istimewa-pun terlihat dari kesantunannya berbicara, kejujurannya saat ujian, kekokohannya menjaga harga diri, kebaikan akademisnya, kehebatannya membagi waktu dan kebaikan-kebaikan lainnya.

Sungguh, Keberkahan yang Allah lahirkan dari da’wah sekolah telah mampu mengobati zaman yang telah luka berdarah-darah,
Oleh tawuran pelajar
Oleh pergaulan bebas pelajar
Oleh pornografi pelajar
Oleh akhlak hina pelajar
Oleh kecurangan pelajar
Oleh hedonisme pelajar

Da’wah sekolah yang digadang-gadang siang malam oleh saya, kami,kalian, dan ribuan aktivis da’wah sekolah lainnya,
Telah mampu membuat jalinan mimpi indah tentang negeri yang ‘baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur ‘ itu terajut kembali.

Bahwa harapan itu masih ada.
Bahwa waktu sela kehadiran azab Allah itu masih bisa dipanjangkan…

Fabi ayyi aalaa-i robbikumaa tukadzdzibaan!
Maka ni’mat Tuhan yang mana lagi yang engkau dustakan.

Tak mampu kami hidup tanpa da’wah, telah kami dan kalian ikrarkan.
Telah kami dan kalian buktikan.
Telah kami dan kalian perjuangkan.

Pusaran da’wah yang indah telah membuat kelelahan langkah kita tak lagi bermakna.
Manisnya iman dan ukhuwah telah membuat.
habisnya uang, habisnya waktu kita tak lagi punya arti.
Kita percaya bahwa da’wah telah menyirami keimanan manusia, dan iman sejak kehadirannya selalu mampu merubah apa saja.
Bahwa iman selalu membawa jutaan cerita ajaib dalam kehidupan, bahwa iman mampu membuat kita bertahan dan lebih berdaya.

Jadi Wahai Adik,
Tetaplah berjuang, bertahan,berpegangan tangan.
Kelak kalian akan saksikan, ada dunia baru yang Allah berkahi,yang tentram dan indah.
Yang akan kita wariskan untuk manusia-manusia baru yang tak lain adalah anak-cucu kita sendiri.

Jadi Wahai Adik,
Jangan pernah berhenti.
Karena berhenti berarti mati.
Karena berhenti berarti hidup tanpa cahaya.

Wahai Adik,
Sungguh,
Agar Allah mudahkan.
Agar Allah sucikan dari kepentingan dunia.
Agar Allah menjaga keberkahannya.
---
Kami juga kalian, dilahirkan dari rahim hangat da’wah sekolah. Diasuh oleh ketulusan para mentor dan murobbi membuat kami dan kalian mampu tegak berdiri bertarung dengan ‘keangkuhan zaman’.

Di hati kita ikrarkan : Allahu Ghoyatuna ! Karena Allah saja.
~Hingga kini Kami dan Kalian Bertahan~
-Barianti-
Di Kutip dari Artikel di ilhamrobbani2 on January 13, 2012-repost
Izinkan Kami Bertutur untuk Para Pejuang Dakwah Sekolah

Apa kabar kawan seperjuangan? Kudengar kalian sudah berkelana di bumi hikmah masing-masing. Tidak terasa, sudah lama tidak bersua :) 
Apa kabar kawan seperjuangan? Kembali mengingat 3-4 tahun yang lalu saat saling berjabat tangan mengenal dan menguatkan :)
Apa kabar kawan seperjuangan? Yang dulu Allah hadirkan saat diri ini terkoyak dan jauh dari iman :)
Ku yakin, Allah yang juga akan kembali mengukuhkan hati kita bersama untuk tetap berada pada jalan perjuangan yang sama. Hujan Yogyakarta-Musdalifah 1 April 2015


pict : asn

Total comment

Author

Unknown

Asa

Banyaknya amal dan amanah bukan penentu seseorang untuk masuk ke syurga Nya. Banyaknya kontribusi kemasyarakat bukan jaminan diri yang paling benar dan bijak dalam menentukan skala prioritas. Sama sekali.

Masih ingat? Kisah seorang ulamaa’ dengan karya buku yang berjilid-jilid. Peristiwa yang menjadi perenungan bersama tentang makna amalan dan rahmat. Suatu ketika beliau ditakdirkan Allah untuk belajar dari peristiwa mati sesaat (dalam bahasa jawa namanya mati suri). Setelah tersadar dari kematiannya, beliau ditanya tentang apa yang menolongnya saat ia berada di alam akhirat? Jawab beliau hanya ‘satu’. Yakni 2 rakaat sholat malamnya.  Kemana jilid-jilid karya dan amalah-amalan beliau yang lain? Allah

Tidak habis pikir dengan skenarionya Allah. Rahmat-Nya sekali lagi bukan karena banyak pencapaian amal yang tertunaikan. Dengan apa syarat amal itu diterima? Yaa, salah satunya yakni keikhlasan.

Yang kita lakukan adalah upaya perbaikan. Senantiasa minta untuk dibimbing dan ditarbiyah sama Allah. Hingga akhirnya, kehidupan ini diakhiri dengan kematian yang baik. Kematian yang dirindukan oleh semua orang. Kematian yang menjadi gerbang pertemuanya dengan sang khaliq. Kematian dengan bau harum syurga yang semerbak wangi. Kematian yang semua ridho atas meninggalnya sang mayit. Kematian yang tidak hanya orang tua dan kolega yang mengiringi, tapi malaikat-malaikat Nya pun turut mengiringi. Kematian yang tidak meninggalkan hutang sedikitpun. Kematian yang khusnul khotimah. Allah, rahmatilah kami.



 pict : asn

Total comment

Author

Unknown